Penulis: Al-Ustâdzah Ummu Ishâq Al-Atsariyyah
Keberadaan Wanita Sebelum Islam
Panjang sudah zaman yang dilalui umat manusia yang berdiam di bumi Allah Subhanahu wa Ta’ala ini. Sekian waktu mereka lalui dalam memakmurkan bumi karena Allah Subhanahu wa Ta’ala
memang menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi-Nya. Dia Yang Maha
Tinggi berfirman kepada para malaikat-Nya sebagaimana diabadikan dalam
Tanzil-Nya yang mulia:
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي اْلأَرْضِ خَلِيفَةً
“Ingatlah ketika Rabbmu berkata kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi’.” (Al-Baqarah: 30)
Manusia pun membangun kehidupan dan
peradaban mereka, generasi demi generasi, silih berganti. Namun sejarah
mencatat sisi gelap perlakuan mereka terhadap makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala yang bernama wanita, padahal wanita merupakan bagian dari umat manusia. Kesewenang-wenangan
dan penindasan mewarnai hari-hari kaum wanita dalam kegelapan alam
jahiliyyah, baik di kalangan bangsa Arab maupun di kalangan ajam (non
Arab). Perlakuan jahat dan ketidaksukaan orang-orang jahiliyyah terhadap
wanita ini diabadikan dalam Al-Qur’anul Karim.
وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُمْ بِاْلأُنْثَى
ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيْمٌ. يَتَوَارَى مِنَ الْقَوْمِ
مِنْ سُوْءِ مَا بُشِّرَ بِهِ أَيُمْسِكُهُ عَلَى هُوْنٍ أَمْ يَدُسُّهُ
فِي التُّرَابِ أَلاَ سَاءَ مَا يَحْكُمُوْنَ
“Apabila salah seorang dari mereka
diberi kabar gembira dengan kelahiran anak perempuan, menjadi merah
padamlah wajahnya dalam keadaan ia menahan amarah. Ia menyembunyikan
dirinya dari orang banyak karena buruknya berita yang disampaikan
kepadanya. (Ia berpikir) apakah ia akan memeliharanya dengan menanggung
kehinaan ataukah akan menguburkannya hidup-hidup di dalam tanah?
Ketahuilah alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” (An-Nahl: 58-59)
وَإِذَا الْمَوْءُوْدَةُ سُئِلَتْ بِأَيِّ ذَنْبٍ قُتِلَتْ
“Dan apabila anak perempuan yang dikubur hidup-hidup itu ditanya karena dosa apakah ia dibunuh?” (At-Takwir: 8-9)
Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullahu menyatakan bahwa anak perempuan itu dikubur hidup-hidup oleh orang-orang jahiliyyah karena tidak suka dengan anak perempuan. (Tafsir Ibnu Katsir, 8/260)
Apabila anak perempuan itu selamat dari
tindakan tersebut dan tetap hidup maka ia hidup dalam keadaan dihinakan,
ditindas dan didzalimi, tidak diberikan hak waris walaupun si wanita
sangat butuh karena fakirnya. Bahkan justru ia menjadi salah satu benda
warisan bagi anak laki-laki suaminya apabila suaminya meninggal dunia.
Dan seorang pria dalam adat jahiliyyah berhak menikahi berapa pun wanita
yang diinginkannya tanpa ada batasan dan tanpa memerhatikan hak-hak
para istrinya. (Al-Mu`minat, hal. 11)
Ini kenyataan yang didapatkan pada bangsa Arab sebelum diutusnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
kenyataan buruk yang sama juga terdapat pada bangsa ajam. Kita tengok
perlakuan bangsa Yunani dan Romawi yang dulunya dikatakan telah memiliki
“peradaban yang tinggi”. Mereka menempatkan wanita tidak lebih dari
sekedar barang murahan yang bebas untuk diperjualbelikan di pasaran.
Wanita di sisi mereka tidak memiliki kemerdekaan dan kedudukan, tidak
pula diberi hak waris.
Di Hindustan, wanita dianggap jelek,
sepadan dengan kematian, neraka, racun dan api. Bila seorang suami
meninggal dan jenazahnya diperabukan maka si istri yang jelas-jelas
masih hidup harus ikut dibakar bersama jenazah suaminya.
Bagi bangsa Yahudi, wanita adalah makhluk terlaknat karena sebabnyalah Nabi Adam melanggar larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala hingga dikeluarkan dari surga. Sebagian golongan Yahudi menganggap ayah si wanita berhak memperjualbelikan putrinya.
Wanita juga dihinakan oleh para pemeluk
agama Nasrani. Sekitar abad ke-5 Masehi, para pemuka agama ini berkumpul
untuk membahas masalah wanita; apakah wanita itu sekedar tubuh tanpa
ruh di dalamnya, ataukah memiliki ruh sebagaimana lelaki? Keputusan
akhir mereka menyatakan wanita itu tidak memiliki ruh yang selamat dari
azab neraka Jahannam, kecuali Maryam ibu ‘Isa. (Al-Mar`ah fil Islam, hal. 10-12)
Kedudukan Wanita dalam Islam
Islam datang dengan cahayanya yang
menerangi dunia. Kedzaliman terhadap wanita pun terangkat. Islam
menetapkan insaniyyah (kemanusiaan) seorang wanita layaknya seorang
lelaki, di mana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan perempuan…” (.Al-Hujurat: 13)
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ
الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا
وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً
“Wahai manusia, bertakwalah kalian
kepada Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dari jiwa yang satu,
kemudian Dia ciptakan dari jiwa yang satu itu pasangannya. Lalu dari
keduanya Dia memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.” (An-Nisa`: 1)
Sebagaimana wanita berserikat dengan lelaki dalam memperoleh pahala dan hukuman atas amalan yang dilakukan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ
أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً
وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُوْنَ
“Siapa yang beramal shalih dari
kalangan laki-laki ataupun perempuan sedangkan ia dalam keadaan beriman
maka Kami akan menganugerahkan kepadanya kehidupan yang baik dan Kami
akan memberikan balasan pahala kepada mereka dengan yang lebih baik
daripada apa yang mereka amalkan.” (An-Nahl: 97)
Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
لِيُعَذِّبَ اللهُ الْمُنَافِقِيْنَ
وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَالْمُشْرِكَاتِ وَيَتُوْبَ اللهُ
عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
“Agar Allah mengazab orang-orang
munafik, baik dari kalangan laki-laki maupun perempuan, dan orang-orang
musyrik, baik dari kalangan laki-laki maupun perempuan. Dan agar Allah
mengampuni orang-orang yang beriman, baik dari kalangan laki-laki maupun
perempuan…” (Al-Ahzab: 73)
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengharamkan wanita dijadikan barang warisan sepeninggal suaminya.
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا لاَ يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَرِثُوا النِّسَاءَ كَرْهًا
“Wahai orang-orang yang beriman tidak halal bagi kalian mewarisi para wanita secara paksa.” (An-Nisa`: 19)
Bahkan wanita dijadikan sebagai salah satu ahli waris dari harta kerabatnya yang meninggal. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
لِلرِّجَالِ نَصِيْبٌ مِمَّا تَرَكَ
الْوَالِدَانِ وَاْلأَقْرَبُوْنَ وَلِلنِّسَاءِ نَصِيْبٌ مِمَّا تَرَكَ
الْوَالِدَانِ وَاْلأَقْرَبُوْنَ مِمَّا قَلَّ مِنْهُ أَوْ كَثُرَ
“Bagi para lelaki ada hak bagian dari
harta peninggalan kedua orang tua dan kerabat-kerabatnya. Dan bagi para
wanita ada hak bagian dari harta peninggalan kedua orang tua dan
kerabat-kerabatnya, baik sedikit ataupun banyak menurut bagian yang
telah ditetapkan.” (An-Nisa`: 7)
Dalam masalah pernikahan, Allah Subhanahu wa Ta’ala
membatasi laki-laki hanya boleh mengumpulkan empat istri, dengan syarat
harus berlaku adil dengan sekuat kemampuannya di antara para istrinya.
Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala wajibkan bagi suami untuk bergaul dengan ma’ruf terhadap istrinya:
وَعَاشِرُوْهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ
“Dan bergaullah kalian dengan para istri dengan cara yang ma’ruf.” (An-Nisa`: 19)
Allah Subhanahu wa Ta’ala
menetapkan adanya mahar dalam pernikahan sebagai hak wanita yang harus
diberikan secara sempurna kecuali bila si wanita merelakan dengan
kelapangan hatinya. Dia Yang Maha Tinggi Sebutan-Nya berfirman:
وَآتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً فَإِنْ طِبْنَ لَكُمْ عَنْ شَيْءٍ مِنْهُ نَفْسًا فَكُلُوْهُ هَنِيْئًا مَرِيْئًا
“Dan berikanlah mahar kepada para
wanita yang kalian nikahi sebagai pemberian dengan penuh kerelaan.
Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kalian sebagian dari mahar
tersebut dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu
sebagai sesuatu yang baik.” (An-Nisa`: 4)
Wanita pun dijadikan sebagai penanggung jawab dalam rumah tangga suaminya, sebagai pemimpin atas anak-anaknya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kabarkan hal ini dalam sabdanya:
الْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُوْلَةٌ عَنْهُمْ
“Wanita adalah pemimpin atas rumah tangga suaminya dan anak suaminya, dan ia akan ditanya tentang mereka.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). (Al-Mukminat, hal. 12-14)
Wanita di hadapan Hukum Syariat
Syariat Islam yang diturunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Nabi-Nya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam
menetapkan bahwa wanita adalah insan yang mukallaf sebagaimana lelaki.
Wanita wajib bersaksi tidak adanya sesembahan yang berhak diibadahi
kecuali hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Ia harus menegakkan shalat, menunaikan zakat, puasa di bulan Ramadhan
dan berhaji bila ada kemampuan. Ia wajib beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, beriman akan datangnya hari akhir dan beriman dengan takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang baik ataupun yang buruk semuanya ditetapkan oleh-Nya. Wajib pula bagi wanita untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala seakan-akan ia melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bila tidak bisa menghadirkan yang seperti ini, maka ia harus yakin Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu melihatnya dalam seluruh keadaannya, ketika sendiri ataupun bersama orang banyak.
Wanita juga harus melaksanakan amar
ma’ruf nahi mungkar semampunya, melaksanakan apa yang diperintahkan dan
menjauhi apa yang dilarang. Ia pun diperintah untuk berhias dengan
akhlak mulia seperti jujur, amanah, dan adab-adab Islam lainnya.
Pembebanan syariat atas wanita
sebagaimana kepada lelaki ini tidak lain bertujuan untuk memuliakan
wanita dan mengantarkannya kepada derajat keimanan yang lebih tinggi.
Karena, pemberian beban syariat kepada seorang hamba hakikatnya adalah
pemuliaan bagi si hamba, bila ia melaksanakannya sesuai dengan apa yang
dikehendaki oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bukankah di balik beban syariat itu ada pahala yang dijanjikan dan kenikmatan abadi yang menanti…?
Perlu diketahui, sekalipun wanita
memiliki kedudukan yang sama dengan lelaki dalam hukum syariat, namun
ada beberapa kekhususan hukum yang diberikan kepada wanita. Di antaranya:
1. Wanita tidak diwajibkan mencari nafkah untuk keluarganya.
2. Dalam warisan, wanita memperoleh setengah dari bagian lelaki, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يُوْصِيْكُمُ اللهُ فِي أَوْلاَدِكُمْ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ اْلأُنْثَيَيْنِ
“Allah memberi wasiat kepada kalian
tentang pembagian warisan bagi anak-anak kalian, yaitu anak laki-laki
mendapat bagian yang sama dengan bagian yang diperoleh dua anak
perempuan.” (An-Nisa`: 11)
Pembagian seperti ini ditetapkan karena
seorang lelaki memiliki kebutuhan untuk memberi nafkah, memikul beban,
mencari rizki dan menanggung kesulitan, sehingga pantas sekali ia
menerima bagian warisan dua kali lipat dari yang diperoleh wanita.
Demikian dinyatakan Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullahu ketika menafsirkan ayat di atas.
3. Wanita tidak boleh memimpin laki-laki, bahkan ia harus berada di bawah kepemimpinan lelaki. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
الرِّجَالُ قَوَّامُوْنَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ
“Kaum lelaki adalah pemimpin atas
kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (lelaki)
atas sebagian yang lain (wanita) dan karena mereka (lelaki) telah
menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (An-Nisa`: 34)
Al-Imam Al-Alusi rahimahullahu
berkata: “….Terdapat riwayat yang menerangkan bahwa para wanita kurang
akal dan agamanya, sedangkan lelaki sebaliknya. Hal ini sangatlah jelas.
Karena itulah para lelaki mendapat kekhususan mengemban risalah
kerasulan dan kenabian menurut pendapat yang paling masyhur. Mereka
mengemban amanah imamatul kubra (kepemimpinan global) dan imamatus shughra
(kepemimpinan nasional), menegakkan syiar-syiar Islam seperti adzan,
iqamah, khutbah, shalat Jum’at, bertakbir pada hari-hari tasyrik
-menurut pendapat guru kami yang mulia-. Demikian pula memutuskan
perceraian dan pernikahan menurut pendapat madzhab Syafi’iyyah,
memberikan kesaksian-kesaksian dalam perkara pokok, mendapat bagian yang
lebih banyak dalam pembagian harta warisan dan berbagai permasalahan
lainnya.” (Ruhul Ma’ani, 3/23)
Ketika seorang wanita diangkat sebagai pemimpin oleh suatu kaum, maka mereka tidak akan beruntung. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْ أَمْرَهُمُ امْرَأَةٌ
“Tidak akan beruntung suatu kaum yang mereka menyerahkan urusan mereka kepada seorang wanita.” (HR. Al-Bukhari)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda seperti ini tatkala sampai berita kepada beliau bahwa penduduk
Persia menobatkan Buran, putri Kisra, sebagai ratu mereka. Al-Imam
Ash-Shan’ani rahimahullahu berkata: “Di dalam hadits ini ada
dalil yang menunjukkan tidak bolehnya seorang wanita memimpin sesuatu
pun dari hukum-hukum yang bersifat umum di kalangan muslimin….” (Subulus Salam, 4/190)
Demikianlah. Semua
kekhususan yang ditentukan oleh Islam terhadap wanita bertujuan untuk
menjaga agama, akal, nasab/keturunan, jiwa dan harta, di mana -menurut
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani rahimahullahu– bila kelima perkara ini terjaga niscaya akan terwujud kebaikan dunia dan akhirat. (Fathul Bari, 1/226)
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.
(Sumber: http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=436)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar